Selasa, 30 Oktober 2018

Efek Negatif Dari Bekerja Sambil Mendengarkan Musik

Efek Negatif Dari Bekerja Sambil Mendengarkan Musik

Kabar buruk bagi mereka yang hobi mendengarkan musik sembari bekerja.

Sebuah riset yang baru-baru ini dilakukan menemukan, mendengarkan musik secara signifikan dapat merusak kreativitas kita.

Riset dilakukan oleh peneliti dari University of Central Lancashire, University of Gävle di Swedia dan Lancaster University.

Dalam penelitian ini, peserta diminta meyelesaikan tugas kreativitas verbal dalam lingkungan yang berbeda.

Peserta dalam riset ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok menyelesaikan tugas di ruang yang sunyi.

Sementara itu, kelompok lain diminta untuk menyelesaikan tugas sembari mendengarkan musik dengan lirik yang tidak mereka kenal, musik instrumental tanpa lirik, dan musik dengan lirik yang akrab di telinga peserta.

Setiap peserta kemudian ditunjukkan tiga kata, seperti bunga, jam dan baju.

Setelah itu, peserta diminta untuk menemukan satu kata terkait (dalam kasus ini yaitu "matahari") yang dapat digabungkan untuk membuat kata atau frasa umum, misalnya bunga matahari, baju matahari dan jam matahari.

"Hasilnya, kami menemukan bukti kuat tentang adanya gangguan kinerja pada mereka yang menyelesaikan tugas sembari mendengarkan musik," ucap Neil McLatchie, salah satu peneliti dari Lancaster University.

Sementara itu, mereka yang mendengarkan musik dengan lirik yang mereka kenal mengalami gangguan kreativitas, terlepas bahwa lagu-lagu itu meningkatkan suasana hati atau tidak.

Selama ini, bekerja dengan mendengarkan musik dipercaya dapat meningkatkan kreativitas. Namun, hasil riset ini membuktikan hal sebaliknya.

"Hasil riset ini memberi bukti berbeda dengan kepercayaan bahwa musik dapat meningkatkan kreativitas," ucap McLatchie.

Menurutnya, musik justru secara konsisten menganggu kinerja kreativitas dalam kemampuan pemecahan masalah, terlepas dari jenis lirik ataupun hanya sekadar instrumen saja.

Kamis, 25 Oktober 2018

Hati-hati Berpikir Negatif Bisa Merusak Tubuh dan Mental

Hati-hati Berpikir Negatif Bisa Merusak Tubuh dan Mental

Kita pasti sangat mudah mengkritik diri sendiri yang -misalnya, melakukan aktivitas olahraga, namun mengakhirinya tidak sesuai harapan. 

Pikiran seperti "mengapa kemampuan berolahraga saya sangat lambat" atau "kenapa saya sangat lemah" kerap menghantui pikiran.

Nah, berdasarkan penelitian di Universitas Exeter dan Universitas Oxford di Inggris, pola pikir ini ternyata bisa merusak kesehatan fisik dan mental.

Dalam sebuah riset ilmu psikologi klinis yang melibatkan 135 mahasiswa Universitas Exeter ini, para responden dibagi dalam lima kelompok.

Peneliti mengukur detak jantung dan respons keringat setiap responden — atau seberapa banyak mereka berkeringat- sesuatu yang dipengaruhi oleh perasaan terancam atau tertekan.

Setelah itu, periset meminta mereka untuk melaporkan hal-hal seperti, kondisi perasaan, bagaimana sikap mereka terhadap diri sendiri, dan seberapa terhubung perasaan dia dengan orang lain.

Sebanyak dua dari lima kelompok kemudian menerima rekaman audio selama 11 menit yang mendorong mereka untuk mencintai diri sendiri atau berpikir positif.

Tiga kelompok yang tersisa menerima rekaman audio 11 menit yang dibuat untuk mendorong pikiran negatif mengenai diri sendiri.

Ternyata, kelompok-kelompok yang mendengarkan rekaman audio untuk mendorong pikiran positif pada diri sendiri memiliki lebih banyak energi.

Mereka juga memiliki detak jantung yang lebih rendah, dan respons keringat yang lebih rendah daripada yang mereka lakukan sebelum percobaan dimulai.

Sementara itu, mereka yang mendengarkan rekaman audio untuk mendorong pikiran negatif memiliki detak jantung yang lebih tinggi dan lebih banyak berkeringat.

"Temuan kami menunjukkan bersikap baik pada diri sendiri mematikan respons ancaman dengan mengurangi detak jantung dan respons keringat."

Begitu dikatakan Hans Kirschner, salah satu  peneliti dari Universitas Exeter.

Ia menambahkan, berpikir postif tentang diri sendiri juga membuat tubuh merasa aman dan santai, yang dapat kita lihat dengan peningkatan variasi detak jantung.

Variasi detak jantung ini, kata Kirschner, terkait dengan kemampuan kita untuk mengatur emosi.

Ini merupakan hal penting, karena banyak masalah kesehatan mental dan fisik dikaitkan dengan stres kronis yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seiring berjalannya waktu.

Sementara itu, bersikap kritis terhadap diri sendiri akan mengaktifkan sistem ancaman dalam tubuh.

Dalam riset ini, misalnya, Kirschner mengatakan, respons detak jantung dan keringat partisipan sangat tinggi.

Lalu, apakah ini berdampak untuk atlet lari?

Riset ini memang tidak secara langsung membahas atlet.

Namun, Kirschner berpendapat memperlakukan diri dengan baik saat merasa kecewa atau sedih, dapat membantu menciptakan kondisi pikiran yang baik untuk terus berolahraga.

Bersikap baik pada diri sendiri dapat melawan kritik batin yang sering melumpuhkan dan mengecilkan hati.

Ini membantu mengatur emosi negatif, dan penyelesaian masalah dengan cara yang lebih efektif.

Dengan kata lain, daripada kita marah pada diri sendiri karena kemampuan berlari yang dirasa buruk, katakan pada diri sendiri bahwa kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Setelah itu, berjanjilah pada diri sendiri, lain kali kita akan melakukannya lebih baik.