Rabu, 05 Desember 2018

Benarkah Tidur Siang Bantu Tekanan Darah Kita?

Benarkah Tidur Siang Bantu Tekanan Darah Kita?

Tidur siang merupakan salah satu aktivitas yang mungkin agak sulit didapat oleh para karyawan.

Kebanyakan dari karyawan lebih memilih makan siang atau bersenda gurau dengan rekan ketika jam istirahat siang.

Padahal, menurut studi, tidur siang justru memiliki efek serupa dengan minum pil untuk menurunkan tekanan darah.

Laman New York Post memberitakan, para ilmuwan menemukan mereka yang menikmati tidur siang lebih mungkin mengalami penurunan tekanan darah, dibandingkan dengan orang dewasa yang tetap terjaga.

Pedoman American Heart Association mengungkapkan, pembacaan tekanan darah sistolik normal harus kurang dari 120 mm Hg, dan pembacaan tekanan darah diastolik normal harus kurang dari 80 mm Hg.

Artinya, angka tekanan darah kurang dari 120/80 mm Hg dianggap dalam kisaran ideal.

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 212 orang dengan usia rata-rata 62 tahun, para peneliti di Yunani menemukan, tidur siang setiap hari selama 49 menit memangkas pembacaan tekanan darah sistolik sebesar 5mm Hg.

Para peneliti mengatakan, ini adalah penurunan yang serupa dengan apa yang dialami pasien setelah minum pil tekanan darah berdosis rendah.

"Tidur siang tampaknya menurunkan tingkat tekanan darah pada besaran yang sama dengan perubahan gaya hidup lainnya."

"Berdasarkan temuan kami, jika seseorang memiliki waktu untuk tidur siang di siang hari, hal itu mungkin juga memiliki manfaat untuk mengatasi tekanan darah tinggi."

Demikian kata Ketua peneliti studi dokter Manolis Kallistratos dari Asklepieion General Hospital.

"Tidur siang dapat dengan mudah diadopsi dan biasanya tidak memerlukan biaya apa pun. Tidur sangat penting untuk kesejahteraan kita."

Temuan ini akan dipresentasikan di Sesi Ilmiah Tahunan American College of Cardiology di New Orleans akhir Maret 2019.

Tetapi Sonya Babu-Narayan, Direktur medis asosiasi di British Heart Foundation, mengatakan pasien harus mempertimbangkan perubahan gaya hidup lainnya terlebih dahulu.

"Tidur yang cukup adalah penting bagi wellbeing, kesehatan jantung dan peredaran darah kita."

"Tetapi ada bukti bagus untuk menunjukkan pilihan gaya hidup sehat, seperti mengurangi asupan garam dan alkohol, mempertahankan berat badan yang sehat, dan berolahraga secara teratur merupakan cara terbaik untuk membantu menjaga tekanan darah," katanya.

Oleh karena itu, katanya, membuat pilihan gaya hidup yang sehat tetap menjadi kunci untuk mencegah serangan jantung dan stroke, bersamaan dengan minum obat sesuai anjuran.

Tekanan darah tinggi dikenal sebagai 'pembunuh' diam-diam, karena tanda-tandanya sering tidak diketahui.

Tak itu saja, tekanan darah tinggi pun pemicu terbesar penyakit jantung dan stroke

Kamis, 29 November 2018

Alasan Menikahi Teman Adalah Pilihan Bagus

Alasan Menikahi Teman Adalah Pilihan Bagus

"I’m lucky I’m in love with my best friend," begitu penggalan lirik lagu Jason Mraz dan Colbie Caillat yang populer sekitar dekade yang lalu. Orang Jawa pun punya ungkapan, "witing tresno jalaran soko kulino." Cinta datang karena terbiasa.

Apakah Anda mencintai orang karena sudah mengenalnya dengan baik? Di Amerika Serikat, menurut poling terhadap 801 orang yang dilakukan oleh Monmouth University Polling Institute (Januari 2017), sebagian besar responden mengaku berhubungan dengan orang yang pernah menjadi teman baik. Dari keseluruhan responden yang telah menikah, 88 persen mengaku bahwa pasangan mereka adalah sahabat baiknya.

Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Susan S. Hendrick 24 tahun lalu, hasil tersebut mengalami peningkatan dua kali lipat. Pada penelitian yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships tersebut, ada 44 persen responden yang mengaku pasangannya adalah sahabat baiknya.

Perubahan yang terjadi dalam dua dekade tersebut menunjukkan perbedaan pola pikir pasangan yang memutuskan menikah. Setidaknya, ada standar menentukan pasangan yang berubah.

Salah satu pertanyaan dalam survei Monmouth University Polling Institute adalah: “Seberapa besar Anda mengharapkan pasangan Anda membantu Anda bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi lebih baik?” Dan, hasilnya menunjukkan bahwa secara keseluruhan, responden memang punya ekspektasi dan harapan besar kepada pasangannya untuk ‘memperbaiki’ kualitas pribadi mereka.

Hal ini juga diungkapkan dalam penelitian lain milik Brooke C. Feeney dan Nancy L. Collins. Mereka menyatakan bahwa ide hubungan romantis antar-pasangan saat ini cenderung mengutamakan peningkatan kualitas individu. Hubungan romantis yang mereka jalani menjadi perangkat untuk memperbaiki diri dan nilai-nilai yang mereka anut.

Untuk bisa mencapai ideal itu, kebanyakan pasangan cenderung memilih pasangan yang benar-benar mereka kenal sebelumnya. Bagaimana caranya? Memilih sahabat baik untuk dinikahi adalah jawaban yang paling mungkin.

Kita juga melihat banyak contoh pasangan yang memulai hubungan romantis dengan pertemanan. Ada Pangeran William dan Kate Middleton, Presiden Habibie dengan Ainun, Kim Kardashian dan Kanye West, sampai Ayudia Bing Slamet dan Muhammad Pradana Budiarto. Pasangan-pasangan ini memutuskan menikah setelah lama menjadi teman baik.

Pasangan bangsawan Inggris, Prince William dan Kate Middleton, bertemu pada tahun 2001 saat mereka berdua belajar sejarah seni di Universitas St. Andrews, sebelum akhirnya menikah.

Begitu pula halnya dengan selebritas Ayudia Bing Slamet dan Muhammad Pradana Budiarto. Berteman sejak sekolah, keduanya adalah sahabat dekat. Keduanya memutuskan untuk menikah di usia 27 tahun pada 2015 lalu. Kisah mereka dituliskan dalam sebuah buku berjudul Teman tapi Menikah.

Sementara itu, Kim Kardashian dan Kanye West baru bertunangan dan menikah setelah benar-benar mengenal satu sama lain selama sepuluh tahun. “Saya menikahi sahabat saya. Lupakan apa itu mencari soulmate, menikahi sahabatmu adalah jenis pernikahan baru yang ideal,” kata Kardashian.

Masyarakat sendiri menilai bahwa menikah dengan sahabat adalah cara seseorang meningkatkan kualitas kebahagiaan. Hal ini ditunjukkan oleh survei The National Bureau of Economic Research pada 2014: dua sahabat yang menikah akan mengalami tingkat kebahagiaan pernikahan dua kali lebih baik dibanding pasangan suami-istri yang tak berawal dari persahabatan.

Wajar saja jika seseorang jatuh cinta dan memilih sahabat baiknya untuk dijadikan kekasih. Anda kemungkinan mengalami interaksi lebih banyak dengan sahabat dibanding dengan orang-orang baru. Dua sahabat akan menghabiskan waktu bersama, berbagi minat yang sama, sampai pengalaman berbagi emosi, kemarahan, serta memecahkan masalah bersama.

Kepercayaan juga akan terbangun lebih kuat di antara sahabat. Selain itu, antara dua sahabat umumnya punya kecenderungan untuk saling menjaga satu sama lain, mengerti satu sama lain, dan sudah paham baik-buruk karakter keduanya. Hal-hal sederhana itu tak mudah dipelajari jika kita memulai hubungan dengan orang baru.

Sikap saling tahu dan paham itu juga yang akan meningkatkan kadar ikatan di antara mereka. Ikatan yang baik tentu akan mempengaruhi kadar kualitas hubungan, jika mereka berniat untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih intim. Maka, sangat masuk akal jika hubungan romantis atau juga pernikahan biasanya lebih kuat jika dimulai dari hubungan masa lalu yang intim, atau dalam istilah kekinian kita: teman tapi menikah.

Selasa, 30 Oktober 2018

Efek Negatif Dari Bekerja Sambil Mendengarkan Musik

Efek Negatif Dari Bekerja Sambil Mendengarkan Musik

Kabar buruk bagi mereka yang hobi mendengarkan musik sembari bekerja.

Sebuah riset yang baru-baru ini dilakukan menemukan, mendengarkan musik secara signifikan dapat merusak kreativitas kita.

Riset dilakukan oleh peneliti dari University of Central Lancashire, University of Gävle di Swedia dan Lancaster University.

Dalam penelitian ini, peserta diminta meyelesaikan tugas kreativitas verbal dalam lingkungan yang berbeda.

Peserta dalam riset ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok menyelesaikan tugas di ruang yang sunyi.

Sementara itu, kelompok lain diminta untuk menyelesaikan tugas sembari mendengarkan musik dengan lirik yang tidak mereka kenal, musik instrumental tanpa lirik, dan musik dengan lirik yang akrab di telinga peserta.

Setiap peserta kemudian ditunjukkan tiga kata, seperti bunga, jam dan baju.

Setelah itu, peserta diminta untuk menemukan satu kata terkait (dalam kasus ini yaitu "matahari") yang dapat digabungkan untuk membuat kata atau frasa umum, misalnya bunga matahari, baju matahari dan jam matahari.

"Hasilnya, kami menemukan bukti kuat tentang adanya gangguan kinerja pada mereka yang menyelesaikan tugas sembari mendengarkan musik," ucap Neil McLatchie, salah satu peneliti dari Lancaster University.

Sementara itu, mereka yang mendengarkan musik dengan lirik yang mereka kenal mengalami gangguan kreativitas, terlepas bahwa lagu-lagu itu meningkatkan suasana hati atau tidak.

Selama ini, bekerja dengan mendengarkan musik dipercaya dapat meningkatkan kreativitas. Namun, hasil riset ini membuktikan hal sebaliknya.

"Hasil riset ini memberi bukti berbeda dengan kepercayaan bahwa musik dapat meningkatkan kreativitas," ucap McLatchie.

Menurutnya, musik justru secara konsisten menganggu kinerja kreativitas dalam kemampuan pemecahan masalah, terlepas dari jenis lirik ataupun hanya sekadar instrumen saja.

Kamis, 25 Oktober 2018

Hati-hati Berpikir Negatif Bisa Merusak Tubuh dan Mental

Hati-hati Berpikir Negatif Bisa Merusak Tubuh dan Mental

Kita pasti sangat mudah mengkritik diri sendiri yang -misalnya, melakukan aktivitas olahraga, namun mengakhirinya tidak sesuai harapan. 

Pikiran seperti "mengapa kemampuan berolahraga saya sangat lambat" atau "kenapa saya sangat lemah" kerap menghantui pikiran.

Nah, berdasarkan penelitian di Universitas Exeter dan Universitas Oxford di Inggris, pola pikir ini ternyata bisa merusak kesehatan fisik dan mental.

Dalam sebuah riset ilmu psikologi klinis yang melibatkan 135 mahasiswa Universitas Exeter ini, para responden dibagi dalam lima kelompok.

Peneliti mengukur detak jantung dan respons keringat setiap responden — atau seberapa banyak mereka berkeringat- sesuatu yang dipengaruhi oleh perasaan terancam atau tertekan.

Setelah itu, periset meminta mereka untuk melaporkan hal-hal seperti, kondisi perasaan, bagaimana sikap mereka terhadap diri sendiri, dan seberapa terhubung perasaan dia dengan orang lain.

Sebanyak dua dari lima kelompok kemudian menerima rekaman audio selama 11 menit yang mendorong mereka untuk mencintai diri sendiri atau berpikir positif.

Tiga kelompok yang tersisa menerima rekaman audio 11 menit yang dibuat untuk mendorong pikiran negatif mengenai diri sendiri.

Ternyata, kelompok-kelompok yang mendengarkan rekaman audio untuk mendorong pikiran positif pada diri sendiri memiliki lebih banyak energi.

Mereka juga memiliki detak jantung yang lebih rendah, dan respons keringat yang lebih rendah daripada yang mereka lakukan sebelum percobaan dimulai.

Sementara itu, mereka yang mendengarkan rekaman audio untuk mendorong pikiran negatif memiliki detak jantung yang lebih tinggi dan lebih banyak berkeringat.

"Temuan kami menunjukkan bersikap baik pada diri sendiri mematikan respons ancaman dengan mengurangi detak jantung dan respons keringat."

Begitu dikatakan Hans Kirschner, salah satu  peneliti dari Universitas Exeter.

Ia menambahkan, berpikir postif tentang diri sendiri juga membuat tubuh merasa aman dan santai, yang dapat kita lihat dengan peningkatan variasi detak jantung.

Variasi detak jantung ini, kata Kirschner, terkait dengan kemampuan kita untuk mengatur emosi.

Ini merupakan hal penting, karena banyak masalah kesehatan mental dan fisik dikaitkan dengan stres kronis yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seiring berjalannya waktu.

Sementara itu, bersikap kritis terhadap diri sendiri akan mengaktifkan sistem ancaman dalam tubuh.

Dalam riset ini, misalnya, Kirschner mengatakan, respons detak jantung dan keringat partisipan sangat tinggi.

Lalu, apakah ini berdampak untuk atlet lari?

Riset ini memang tidak secara langsung membahas atlet.

Namun, Kirschner berpendapat memperlakukan diri dengan baik saat merasa kecewa atau sedih, dapat membantu menciptakan kondisi pikiran yang baik untuk terus berolahraga.

Bersikap baik pada diri sendiri dapat melawan kritik batin yang sering melumpuhkan dan mengecilkan hati.

Ini membantu mengatur emosi negatif, dan penyelesaian masalah dengan cara yang lebih efektif.

Dengan kata lain, daripada kita marah pada diri sendiri karena kemampuan berlari yang dirasa buruk, katakan pada diri sendiri bahwa kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Setelah itu, berjanjilah pada diri sendiri, lain kali kita akan melakukannya lebih baik.